hahahah..
entahlah, "enough" diperlukaan di saat-saat tertentu, tapi di saat lain, kata itu malah dilarang penggunaannya, bahkan memikirkan untuk menggunakan kata itu saja, sebaiknya jangan.
kenapa demikian?? saat saya berputus asa. dan saya mengatakannya pada hidup saya, bahwa sudah "enough" untuk keberadaan saya di dunia ini, lalu apa selanjutnya?? nisan dengan ukiran nama saya di salah satu petak kuburan?? OOH NO!!
tapi, disaat kita makan, seingat saya, Muhammad Rasulullah SAW menghimbau untuk meng-"enough"-kan nafsu makan kita sebelum kenyang, saat lapar telah hilang, karena perut berisi 3 hal, yakni makanan, air, dan udara.
nah, dari sini dapat saya simpulkan, bahwa fleksibilitas untuk semua hal diperlukan. keseimbangan dari fleksibilitas itu dituntut keberadaannya. dan norma, akidah, wajib ada sebagai dasar pemikirannya.
saat saya akan melakukan sesuatu, saya harus berpikir cepat dengan dasar akidah yang saya miliki, manakah hal yang tepat dilakukan. dan saat berada di sebuah persimpangan pilihan, saya belum mendapatkan keyakinan diri untuk menentukan, maka "sholat istikharah" merupakan bantuan yang bisa didapat untuk meyakinkan diri.
sedikit curahan hati saya, saat ini saya masih bimbang, apakah saya melanjutkan tema taxonomy saya dengan pembimbing yang "demikian unik" itu, ataukah saya banting setir sekalian, beralih ke tema yang saya ajukan pertama kali, mikrobiologi.
dan, saya merasa hanya omong besar, saat saya membatasi diri untuk melakukan suatu hal karena nafsu belaka. astagfuirullah.
